Lomba Mewarnai / Menggambar / Melukis
Sudah jamak saat ini, disetiap acara ulang tahun perusahaan, hari besar agama maupun hari besar nasional, panitia menyediakan satu acara lomba mewarnai, menggambar maupun melukis. Kapan tepatnya semacam keharusan ini mulai mengisi acara-acara peringatan memang tidak diketahui. Namun sepuluh tahun lalu, mewarnai, menggambar maupun melukis masih merupakan hobi maupun profesi seseorang. Saat ini, menjuarai salah satu lomba tersebut merupakan supremasi tersendiri.
Biasanya untuk alasan kepraktisan dan kemudahan mendapatkan sponsor, peserta lomba dijaring dari anak-anak taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Akan halnya untuk anak-anak sekolah menengah dan atas, baru tersedia kompetisi ketika penyelenggara adalah dinas pendidikan.
Sponsor untuk anak-anak usia taman kanak-kanak dan sekolah sangat melimpah, seperti produsen susu, vitamin, majalah anak, biskuit, alat tulis dan masih banyak lagi. Produsen susu misalnya, bahkan kadang membuka stan jualan dengan pencicip gratis dalam cup-cup kecil.
Untuk anak-anak usia taman kanak-kanak yang memikili keterbatasan ketahanan fisik dan rasa bosan, biasanya diadakan lomba mewarnai. Panitia membagikan lembaran yang sudah bergambar. Peserta tinggal mewarnai. Jika panitia berhasil menggaet sponsor besar, sudah hampir pasti gambarnya adalah gambar ikon produk tersebut. Untuk anak-anak usia sekolah dasar, biasanya diadakan lomba melukis, walaupun pada prakteknya hanya satu dua yang tampak melukis, selebihnya lebih tepat disebut menggambar saja.
Selayaknya lomba berhadiah, mendaftarnyapun tidak gratis. Biaya pendaftaran berkisar antar sepuluh sampai lima puluh ribu rupiah. Walaupun tentusaja ada yang gratis. Biasanya penyelenggaranya pemerintah atau produsen suatu produk yang mengadakan lomba tertutup bekerjasama dengan sekolah tertentu yang mereka pilih.
Ada dua alasan besar mengapa orangtua mau mengeluarkan uang pendaftaran untuk mengikuti lomba-lomba tersebut, selain tentu saja peralatan dan iuran les. Pertama, bagi anak-anak yang belum pernah juara, orangtua mengharapkan anak-anak mereka lebih percaya diri untuk lomba selanjutnya, selain juga mengamati hasil peserta lain yang menang. Kedua, bagi yang sudah sering menang, tentu saja motivasinya adalah hadiah. Meskipun pesertanya anak-anak, namun jika orangtua selektif memilih penyelenggara berdasarkan besarnya atau banyaknya sponsor, hadiahnya bisa sangat menggiurkan.
Dalam psikologi, mewarnai sangat dianjurkan karena dapat menumbuhkan kreatifitas anak. Mewarnai dapat membantu anak mengeluarkan imajinasi mereka, dan membantu mengeluarkan skenario, cerita dan ide yang berbeda-beda dari tiap karya mereka. Anak dapat lebih mudah mengatasi masalah mental mereka, misalnya depresi, ketika mereka mampu mengekspresikan fantasi mereka. Mewarnai juga merupakan aktifitas yang dapat membantu memperbaiki tingkat konsentrasi anak-anak sehingga dapat mencegah defisit perhatian dan perilaku hiperaktif (attension deficit and hyperactivity disorders /ADHD).
Penamaan lomba menggambar atau melukis, hampir semua dilakukan karena penalaran yang sama tapi keliru. Berhubung lomba-lomba seperti ini lebih banyak diadakan oleh swasta dimana panitia dan juri adalah dari manajemen perusahaan tersebut, atau jika penyelenggaranya pemerintah, tak jarang pula jurinya adalah para pegawai senior atau istri pejabat yang kurang peduli dengan perbedaan makna antara menggambar dan melukis. Bagi panitia, jika kertas yang disodorkan untuk lomba adalah kertas kosong, maka apakah akan disebut menggambar ataupun melukis, tak jadi soal.
Menggambar adalah seni visual yang menggunakan sejumlah instrumen gambar untuk menandai sebuah media dua dimensi. Instrumen gambar yang dikenal umum adalah crayon, pensil warna, pastel, spidol, dan sebagainya. Media yang digunakan umumnya kertas. Seorang yang pandai menggambar akan disebut sebagai juru / tukang gambar. Bentuknya biasanya mirip kenyataan.
Melukis adalah praktek penerapan cat, pigmen, warna atau media lainnya ke sebuah permukaan. Permukaan ini misalnya kanvas, kayu, gelas, dan lain-lain. Lukisan adalah mode ekspresi dalam berbagai bentuk. Melukis juga mengenal berbagai teori, aliran dan gaya yang memerlukan pemahaman yang mendalam dari menggambar. Bentuknya sendiri bisa naturalistik maupun representasional. Jadi tidak harus berupa gambar yang indah-indah atau yang mirip kenyataan. Seorang yang piawai melukis, akan disebut sebagai pelukis.
Karena kesalahkaprahan pengertian dari kedua istilah ini kadang mengundang keributan dilkalangan peserta, lantaran apabila juri yang ditugaskan panitia berasal dari kalangan seniman berteori mumpuni, sering memenangkan peserta dengan hasil ‘ajaib’. Sedangkan apabila juri dari kalangan awam seni, tentu yang dimaksud bagus adalah hasil yang serupa nyata dengan komposisi warna yang rapi dan menarik.
Baik menggambar maupun melukis merupakan pendorong kreatifitas lebih lanjut dari mewarnai. Menggambar memerlukan konsentrasi lebih tinggi disertai dengan pengerahan otak kanan. Otak kanan adalah sumber kreatifitas dan spontanitas. Sedangkan melukis, selain semua hal yang diperlukan dalam menggambar tersebut, juga diperlukan bakat.
Karena begitu besar manfaat mewarnai, menggambar maupun melukis bagi perkembangan seorang anak, maka dinas pendidikan merasa perlu memberi fasilitas kompetisi untuk mendorong perhatian lebih serius dibidang ini. Namun sepertinya sifat serakah manusia juga campur tangan. Kompetisi dengan maksud mulia ini kemudian ikut mendorong perlombaan supremasi sekolah dengan sebanyak-banyaknya menjuarai lomba ini tanpa melihat ensensinya. Lalu tumbuhlah bisnis baru seperti tempat-tempat les yang berani menjamin anak didiknya untuk menjuarai lomba-lomba. Pada saat lomba-pun dapat dengan mudah dilihat bagaimana orangtua ataupun guru tidak mempedulikan apa tujuan mengajak anak-anak mengikuti lomba tersebut, misalnya berusaha mencuri-curi membantu mewarnai, mencari informasi siapa jurinya, membentak-bentak anak yang tidak segera menyelesaikan pekerjaannya, dan sebagainya.
Dengan demikian para orangtua, sebaik-baiknya tujuan kegiatan ataupun kompetisi yang diikuti anak-anak kita, tidak akan berarti jika ambisi kita melebihi esensi kegiatan atau lomba tersebut.
1st published at www.burselfwoman.wordpress.com 20 April 2010







